Pikiran dan Profil Abdullah Sungkar

PIKIRAN DAN PROFIL ABDULAH SUNGKAR

Oleh : Yono Daryono

Banyak orang berpikir, para sarjana otomatis bisa menulis. Faktanya, banyak dosen yang mengambil program doktor kesulitan merajut pemikirannya menjadi tulisan yang baik. Menulis membutuhkan latihan dan, seperti seorang pemula, ia pasti memulai dengan karya yang biasa-biasa saja, bahkan cenderung buruk. Namun, dengan bahasa tulisan yang dipakainya, orang dapat mengerti apa yang menjadi ide pikirannya. Pembaca dapat pula dibawa mengembara ke alam pikiran sang penulis lewat kata-kata yang dirangkainya.

Membaca dapat memperkaya diri dengan kata-kata; sementara itu,, menulis dapat diibaratkan sebagai kegiatan mengeluarkan ‘diri’ dengan bantuan kata-kata. Jika kita ingin menulis tetapi enggan membaca, kegiatan menulis yang kita jalani akan menjadi kegiatan yang berat dan kadang menyiksa.

Namun, kadangkala sulit menghilangkan pengaruh dari buku-buku yang dibaca. Menulis itu memang memerlukan buku bacaan sebagai referensi, hanya saja ketika membaca banyak buku, pikiran kita dipenuhi oleh banyak sekali pikiran orang lain yang berasal dari buku-buku yang dibaca itu. Akhirnya, begitu kita menulis, yang ditulis adalah pikiran orang lain.
Continue reading

Tolak Anggaran Ganti Rugi Pasar Pagi

ABDULLAH SUNGKAR Tolak Anggaran Ganti Rugi Pasar Pagi

Abdullah Sungkar

Abdullah Sungkar

Sampai sekarang, belum diketahui secara persis berapa nilai nyata aset Pasar Pagi Tegal. Namun, Pemerintah Kota Tegal justeru kembali menganggarkan ganti rugi Pasar Pagi Kota Tegal dalam Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kota Tegal tahun 2014. Padahal, dalam pembahasan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Plafon Prioritas Anggaran Sementara (PPAS) hal itu sudah ditolak oleh sejumlah DPRD.

Hal itu terungkap dalam rapat paripurna DPRD dengan agenda Jawaban Wali Kota atas Pemandangan Umum Fraksi – Fraksi DPRD terhadap Raperda ABPD Kota Tegal Tahun 2014, Selasa (3/11).

Tindakan walikota Tegal yang baru saja kalah dalam pilkada itu, kontak mendapat reaksi keras dari beberapa anggota Dewan. Abdullah Sungkar SE, MT,, anggota DPRD dari Fraksi Partai Amanat Nasional dan Peduli Rayat Nasional (PAN Peduli Rakyat), menyatakan tidak bertanggung jawab dan tidak bersedia membahas Raperda APBD Kota Tegal tahun 2014.

Ia beralasan, landasan hukum pembayaran ganti rugi yang sudah ditolak dalam pembahasan KUA/PPA, tetapi dalam RAPBD Kota Tegal 2014 muncul kembali. Bahkan, Sungkar juga menyatakan, tidak mendapatkan jawaban yang jelas, mengenai Surat DPRD Kota Tegal
Nomor 510.1/02 tanggal 30 Oktober 2013 perihal Tindak Lanjut Penyelesaian Kasus Pasar Pagi. “Hampir semua anggota DPRD tidak mengetahui dan mendapatkan penjelasan terkait surat tersebut,” tegasnya.

Menurut dia, aset Pasar Pagi, hingga kini belum diketahui jumlah maupun besaran nilainya. Meskipun demikian, Pemkot Tegal justru berpendapat permasalahan aset merupakan piutang yang tertagih seperti dana bergulir.

Abdullah Sungkar yang sudah lama dikenal sebagai politisi bersih dan pro-rakyat itu juga menolak pemberian dana aspirasi yang akan diberikan kepada anggota DPRD Kota Tegal.

Sumber: SuaraMerdeka.com

Abdullah Sungkar Baca Puisi Tegalan

Abdullah Sungkar, caleg DPRRI dari Tegal MERAUNG baca puisi di malam acara “Para Caleg Lan Seniman Bareng-bareng Maca Puisi Tegalan” Mangayu Bagya Hari Sastra Tegalan” Selasa, 26 Nop 2013 di Kampung Seni PAI Tegal.

Membaca Puisi Tegalan

Membaca Puisi Tegalan

 

Abdullah Sungkar tentang Rusunawa Tegal

ABDULLAH SUNGKAR: “Rusunawa Tegal Belum Layak Ditempati”

TEGAL, suaramerdeka.com - Rumah susun sewa sederhana (Rusunawa) yang dibangun di Kota Tegal dengan menghabiskan anggaran mencapai Rp 25 miliar dinilai belum layak ditempati. Sebab, hingga kini belum dilengkapi listrik dan air bersih untuk memenuhi kebutuhan para penghuni.

Hal itu terungkap dalam tinjauan yang dilakukan Komisi III DPRD Kota Tegal, Selasa (26/11). Menurut Anggota Komisi III DPRD, Abdullah Sungkar SE MT, apabila sarana dan prasarana tidak dilengkapi, maka akan menyulitkan masyarakat yang menempati rusunawa. Oleh karena itu, pihaknya meminta kepada Pemkot untuk segera menindaklanjuti persoalan tersebut.

“Apabila sarana dan prasarana memadai serta sudah ada pelimpahan rusunawa dari pemerintah pusat ke Pemkot Tegal, maka bisa segera difungsikan,” katanya.

Terkait masalah tersebut, Kepala Dinas Permukinan dan Tata Ruang (Diskimtaru), Ir Nur Effendi MSi mengatakan, rusunawa yang dibangun di Kelurahan Kraton, Kecamatan Tegal Barat terdiri atas dua twin block dengan jumlah 196 kamar.

Sesuai rencana rusunawa mulai difungsikan Januari 2014. Oleh karena itu, Pemkot Tegal kini masih melakukan penambahan fasilitas rusunawa, seperti air, listrik, pagar dan paving.

“Anggaran pembangunan berasal dari pemerintah pusat sebesar Rp 700 juta untuk pavingisasi, Pemprov Jateng Rp 600 juta untuk pembangunan pagar dan APBD Kota Tegal Rp 900 juta untuk fasilitas air dan listrik,” katanya.

Nur Effendi menegaskan, untuk tarif sewa disesuaikan dengan tingkatan lantai. Yaitu, lantai 5  sebesar Rp 90.000/bulan, lantai 4 sebesar Rp 100.000/bulan, lantai 3 sebesar Rp 10.000/bulan, dan lantai 2 sebesar Rp 120.000/bulan. Sedangkan untuk lantai dasar, digunakan sebagai tempat usaha, khususnya untuk penghuni rusunawa dengan sewa per meter untuk lapak sebesar Rp 28.000/bulan.

Terkait, belum adanya pasokan air dari PDAM Kota Tegal, lanjut dia, rusunawa sudah memiliki sumur artesis dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU). Bahkan Diskimtaru Kota Tegal pada ubahan APBD tahun 2013 akan membeli alat penyaring air (water treatment) sebanyak 2 unit dengan harga masing-masing sebesar Rp 37 juta, sehingga kualitasnya seperti air PDAM.

“Saat ini Pemkot masih melakukan penyaringan pendaftar calon penghuni rusunawa. Diharapkan Desember 2013 sudah ditetapkan masyarakat yang berhak menempatinya,” ujarnya.*

Atasi Banjir di Tegal

Garis Pantai Tegal

Garis Pantai Tegal

Garis pantai Tegal dari Kemiri sampai Ketiwon berbentuk busur yang membentuk teluk. Orang Belanda menyebutnya Haven, atau pelabuhan yang terlindung.

Pada musim barat, angin yang membentuk gelombang menyudut. Garis pantai terurai menjadi gaya ke arah timur dan selatan. Ke arah timur membawa sedimen dari Kali Pemali, Kali Gangsa, dan Kali Kemiri yang diendapkan di sekitar pelabuhan. Sedangkan gaya ke arah selatan mendorong air pasang masuk ke muara Kemiri dan Sibelis menjadi rob.

Perlu kerja sistematis mengatasi banjir, dan tentu biaya yang besar.

Pembangunan kolam retensi atau polder hanya akan mengatasi banjir dari hulu, jadi mungkin efektif untuk bagian selatan, tapi belum menyeluruh sampai pesisir.

Paket pengendalian banjir lengkap dalam desain di seluruh Tegal butuh 200 milyar, atau setengah dari belanja langsung APBD Kota Tegal. Jadi masih butuh waktu.

Selendang Alam Bumiayu

Oleh: Abdullah Sungkar

Abdullah Sungkar

Abdullah Sungkar

Ibarat sebuah kado, maka tulisan ini adalah kado yang terlambat untuk Kabupaten Brebes yang memperingati hari jadi wilayahnya yang ke 335 pada tanggal 18 Januari 2013 yang lalu. Ini adalah tulisan tentang sebuah jalan raya yang melingkar di pundak ‘kota’ Bumiayu. Penulis memberi tanda kutip pada kata ‘kota’, hal ini dimaksud untuk menunjukkan bahwa secara morfologik Bumiayu adalah kota dengan segala atribut urbannya. Walaupun secara administrasi Bumiayu adalah sebuah Kecamatan.

Awalan (beginning) koridor by-pass Bumiayu, atau yang biasa disebut Jalan Lingkar, merupakan sebuah persimpangan bentuk T (T-Junction) antara jalan arteri primer Tegal-Purwokerto dan jalan lingkar itu sendiri. Persimpangan ini terletak di Dukuh Ranca Kalong Desa Talok. T-Junction ini bukan merupakan T yang sempurna, karena agak cekung pada sisi barat dan cembung pada sisi timur. Rambu dan perlengkapan jalan relatif lengkap.

Ketika penulis melakukan pemotretan di sini, timbul rasa ingin tahu penduduk setempat yang ternyata memperhatikan sambil duduk di sebuah shelter sederhana di sudut timur jalan. Mereka menanyakan pada Atmo Tan Sidik yang datang bersama penulis, tentang kegiatan apa yang sedang kami lakukan di desa mereka. Kemudian seperti tahu apa yang kami lakukan, mereka mengeluhkan kemacetan yang sering terjadi di kota Bumiayu, terutama pada hari pasar.
Continue reading

Jalan Kenangan Tegal

Oleh Abdullah Sungkar

abdullahsungkar

Abdullah Sungkar

Generasi yang terlahir awal dekade tujuhpuluhan mungkin merupakan generasi Kota Tegal terakhir yang masih sempat menyaksikan kenyamanan dan keindahan ruas-ruas jalan pada distrik stasiun. Deskripsi suasana jalan yang masih tersisa dalam kenangan mereka dan generasi sebelumnya hampir selalu menghidupkan obrolan masa lalu yang indah untuk dikenang.

Memasuki koridor Jalan Pancasila dari arah barat maka pengunjung akan menemui jembatan Kali Gung dengan ornamen lampu gantungnya yang khas. Menuruni jembatan pada sisi utara terlihat sosok watertoren (menara air) yang berdiri kokoh dengan ornamen batu ekspos pada dinding lantai bawah. Sebuah plakat dinding tertulis Anno 1931 membangkitkan persepsi pengunjung pada era kolonial yang tidak pernah dialaminya, sederhana namun sensuous.

Jajaran pohon kenari yang membentuk lines memperkuat karakter jalan sebagai jalan yang penting dan strategis pada masa Hindia Belanda. Pada kanopi pohon kenari yang menjulang tinggi dan membentuk atap hijau bertengger kawanan burung belekok dengan bulunya yang putih bersih, menciptakan kontras warna yang indah dengan hijau pekat daun pohon kenari.
Continue reading